▦ Berita Desa 4 July 2026

Warga Gabus Wetan Gelar Tradisi Jembulan sebagai Wujud Syukur atas Hasil Bumi

⏱ 2 menit baca 👁 36 dilihat
Warga Gabus Wetan Gelar Tradisi Jembulan sebagai Wujud Syukur atas Hasil Bumi
Peluncuran program digitalisasi layanan administrasi di Balai Desa Gabus (Foto: Tim Dokumentasi Desa)
Bagikan: f X WA

SRAGEN — Warga Dukuh Gabus Wetan, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, menggelar tradisi Jembulan atau Sedekah Bumi pada Jumat Legi, 3 Juli 2026. Tradisi yang dilaksanakan pada bulan Muharam atau Suro dalam penanggalan Jawa ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk para leluhur.

Kegiatan Jembulan merupakan tradisi turun-temurun yang telah diwariskan oleh nenek moyang warga Dukuh Gabus Wetan. Seorang tokoh masyarakat setempat menjelaskan bahwa tradisi ini tidak hanya menjadi ajang berkumpul warga, tetapi juga memiliki makna spiritual yang kuat.

“Jembulan ini bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang disebut dahyang atau danyang. Dahyang atau danyang merupakan sebutan bagi leluhur yang diyakini sebagai orang pertama yang menempati Dukuh Gabus Wetan,” ujar salah satu sesepuh Dukuh Gabus Wetan.

Dalam pelaksanaannya, warga berbondong-bondong membawa hasil bumi dan makanan dari hasil panen untuk dikumpulkan di tempat petilasan leluhur. Makanan tersebut kemudian ditata pada bambu yang telah diserut. Susunan makanan itu oleh masyarakat setempat disebut jembul.

Jembul tersebut disusun menyerupai gunungan sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan melalui bumi. Setelah seluruh jembul terkumpul, warga bersama-sama memanjatkan doa. Seusai didoakan, jembul yang berisi hasil bumi dan makanan itu kemudian diperebutkan oleh warga.

Menariknya, tradisi perebutan jembul tidak hanya diikuti oleh warga Dukuh Gabus Wetan. Warga dari luar wilayah juga diperbolehkan ikut berebut makanan hasil bumi tersebut. Hal ini menjadikan Jembulan sebagai tradisi yang tidak hanya sakral, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.

Bagi warga Gabus Wetan, Jembulan memiliki makna mendalam. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh, sekaligus pengingat untuk terus menjaga hubungan baik dengan sesama dan menghormati jasa para leluhur.

Salah satu perangkat Desa Gabus menyampaikan bahwa tradisi seperti Jembulan perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal desa.

“Inti dari Jembulan tidak lepas dari nilai-nilai agama. Di dalamnya ada doa bersama untuk para leluhur dan ajakan kepada masyarakat untuk menyisihkan sebagian hasil panen sebagai sedekah,” ujarnya.

Ia berharap tradisi adat seperti Jembulan, Nyadran, dan Bersih Desa tetap dijaga oleh masyarakat agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman. Menurutnya, kegiatan adat tersebut mengandung nilai luhur, religius, dan sakral yang menjadi identitas budaya masyarakat desa.

Melalui tradisi Jembulan, masyarakat Dukuh Gabus Wetan tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. (ran)